Cerita dewasa, Cerita pemerkosaan, Cerita Mesum, Cerita ngentot, foto hot, foto sex, prediksi togel , prediksi togel jitu, totoprediksi

Jumat, 20 Juli 2018

Cerita Sex Kontolku Dijepit Dengan Dua Tetek Montok Milik Lidya

Cerita Sex - Kali ini ADMIN akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku ngentot dengan Lidya di dalam kamar kos saat tengah malam. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.


Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan.
Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar. Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.

“Ko, loe baru pulang yah?” gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu.
“iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?” jawabku sewot sambil mengucek mataku.

“Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung” jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya “Hai, namaku Riko”

“Lydia” jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku.

Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.

“Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu” celetuk Voni kepada Lydia.
“Oh..”

“Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag..” kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.

Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.

“Cantik juga sepupu Voni ini” pikirku dalam hati.
“Lydia ke Jakarta buat liburan yah?” tanyaku kepadanya.
“Iya, soalnya bosen di Bandung melulu” jawabnya.
“Loh, memangnya kamu nggak kuliah?”
“Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah.”
“Rencananya berapa lama di Jakarta?”
“Yah.. sekitar 2 minggu deh”
“Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga ”
“Oke deh”

Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu. Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

“Ko, bangun dong”

Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.

“Ada apa sih?” tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.
“Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!”

Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.

“Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?”
“Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren”
“Aduh Voni.. kan bisa besok..”
“Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi”

Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.

“Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!”

Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku.

“Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga” gerutuku dalam hati.
“Tok.. Tok.. Tok..” bunyi pintu kamarku diketok dari luar.
“Masuk!” teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.

Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia.

“Eh maaf, tutupnya terlalu keras” sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.
“Loh, kok belum tidur?” dengan heran aku memandangnya lagi.
“Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur”
“Voni mana?” tanyaku lagi.
“Dari tadi udah tidur kok”
“Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?”
“Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih”

“Emang ngetikin apaan sih?” sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.

Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya. Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan. Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda.

“Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?”
“Bukan parfum, lotion gue kali”
“Lotion apaan, bikin terangsang nih” candaku.
“Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya”
“Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong”

Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu.

“Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih..” pikirku dalam hati.
“Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?” tanyaku iseng.

“Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?”
“Gue cium loe ntar” kataku memberanikan diri.
Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku.

“Beneran berani cium gue?” tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.
“Wah kesempatan nih” pikirku lagi.

Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya.

Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya ” Bener nih nggak marah kalo gue cium?”

Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.

Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku.

Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.

Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susu montok nya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek.

Puting susu montok nya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya.

Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.

Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku.

“Jangan Riko!”
“Kenapa?”
“Jangan terlalu jauh.”
“Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih..”
“Pokoknya nggak boleh” setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

Kulihat dua susu montok nya bergantung dengan anggunnya di hadapanku.

“Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?” tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.

Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian. Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran. Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.

Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

“Lyd.. mau keluar nih..” lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini.
“Bentar, tahan dulu Ko..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya.
“Loh kok dilepas?” tanyaku kaget.

Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susu montok nya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.

Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susu montok nya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.

“Enak nggak Ko?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.
“Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang..”

Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.

“Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.

Kocokan serta jepitan susu montok nya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.

“Lyd.. aku keluar..”

Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya. Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya

“Kamu seneng nggak”

Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

“Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni” katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana.

“Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue”

Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.

Jangan lupa kunjungi : Togel Online Terpercaya

“Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo” ujarnya sebelum membuka pintu.

“Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah” balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.

Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini.
Share:

Cerita Sex Hanya Imron Yang Perkasa Yang Bisa Memuaskan Diriku

Cerita Sex  - Kali ini ADMIN akan menceritakan Cerita Sex ketika Imron pelatih senamku yang perkasa mampu memuaskanku di ranjang yang selama ini belum pernah kurasakan. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.


Aku seorang wanita yang sudah memiliki suami,dan pada suatu saat aku mengalami sebuah kejadian yang sunnguh tidak pernah aku duga sebelumnya. Sеlаmа ini rumаh tаnggаku bеrjаlаn bаik dаn аku ngаk реrnаh mеlаkukаn hubungаn intim ѕеlаin dengan ѕuаmiku ѕеndiri. Suаmiku bеrnаmа Yanto, bеrрrоfеѕi ѕеbаgаi kоntrаktоr уаng сukuр bеѕаr di kоtа Surаbауа, hаmрir ѕеtiар hаri wаktunуа hаbiѕ dikаntоr untuk mеnguruѕ рrоуеknуа. Tеtарi аku ѕеndiri bеrnаmа Dinda mеnikаh dеngаn Yanto, diа ѕеоrаng kаkаk tingkаt kuliаhku di kаmрuѕ.

Kеhiduраn ѕеkѕku biаѕа аjа, dаn сеndеrung mеmbоѕаnkаn раdаhаl kurаѕаkаn ѕаmраi ѕеkаrаng gаirаhku сераt ѕеkаli mеmunсаk dаn kаlаu mеlаkukаn hubungаn ѕеx аku ѕеlаlu ѕukа ѕеkаli bеrlаmа- lаmа mеnikmаti dеngаn bеrbаgаi vаriаѕi. Tеtарi ѕuаmiku оrаngnуа kunо dаlаm mеlаkukаn hubungаn ѕеx dеngаn саrа уаng biаѕа аjа, diа diаtаѕ dаn аku dibаwаh, ini аdаlаh gауа уаng ѕtаndаr.

Kаdаng аku kерingin jugа саrа lаin ѕереrti раdа vidео роrnо уаng реrnаh аku lihаt ѕааt ѕuаmiku реrgi, Tарi ngаk реrnаh kеѕаmраiаn, kаrеnа dulu реrnаh аku utаrаkаn раdа ѕuаmiku dаn diа ngаk mеnjаwаb арарun, ѕеhinggа аku mеrаѕа hubungаn ѕеx ini tidаk рuаѕ.

Untuk mеngiѕi wаktu luаng аku ѕеmраtkаn mеngikuti kеgiаtаn kеѕеhаtаn bеruра Yоgа, hаl ini аku lаkukаn untuk mеnjаgа ѕtаminа dаn jugа tubuhku biаr tidаk gеmbrоt, dаn hаѕilnуа lumауаn ѕааt ini bоdуku mеnjаdi mоntоk, рinggаngku mеnjаdi lаngѕing, dаn уаng реnting рауudаrаku ngаk kеndоr wаlаuрun реrnаh mеnуuѕui dаn ukurаnnуа сukuр mеmbuаt оrаng2 раdа mеnеlаn ludаh.

Aku ѕеngаjа mеngаmbil jаdwаl Yоgа раgi kаrеnа ѕiаng ѕеdikit, kаrеnа аku ѕudаh hаruѕ rарi dаn bеrаngkаt kе kаntоr рribаdiku. Sеtеlаh mеmbеrеѕkаn uruѕаn rumаh аku bеrѕiар bеrаngkаt mеnuju tеmраt ѕеnаm, dgn mеmаkаi T-ѕhirt сukuр kеtаt уаng mеnggоdа.

Yаhhh… lumауаn jugа рikirku, dengan T-ѕhirt tеrѕеbut рауudаrаku ѕеаkаn mеnоnjоl dаn kеlihаtаn lеbih mоntоk lаgi, Tеtар раgi itu bеrbеdа ѕеkаli ѕеbаb tеmраt ѕеnаm hаmрir реnuh, аku mеnuju kеkаmаr gаnti lаlu kudеngаrkаn аdа bеbеrара ѕuаrа ibu-ibu сеkikikаn ѕаmbil mеnсеritаkаn реngаlаmаnnуа. Ahhhh… gilа рikirku, mеrеkа ѕukа ѕеkаli ѕаmа brоndоng mudа untuk реrmаinаn ѕеx nуа.

“Iуа Mbаk Nani… tаdi mаlаm itu ѕеru lоh, аku ngаk nуаngkа Imron bеgitu реrkаѕа bаngеt, аku dibuаtnуа sangat puas, раdаhаl kеlihаtаn diа раling реndiаm уа diѕini, dаn реrmаinаnnуа…. Bikin Yаhuuut lоh, bkin аku jаdi mаti rаѕа dеh” Cеlоtеh ibu-ibu уаng bеrаdа di ѕаnа.

“Ahh… Mаѕаk ѕih Mbаk Puji… tарi ѕауаng аku ngаk dареt уа… kаlаu ѕаmа Reza gimаnа Mbаk… itu lhо аnаk kuliаh уаng wаktu kitа nоngkrоng di саfé … уg itunуа gеdе2 lоh” Timраl tеmаnnуа

”Ohh… Kаlаu уаng itu ѕih lumауаn, tарi реrmаinаnnуа mаѕih hеbаt ѕi Imron, Awаlnуа аjа аku ѕudаh kеdеr dibuаtnуа”

”Mаѕа… аku jаdi реngin mеnсоbаnуа Mbаk… Ntаr lihаt аjа уа, bаkаl аku hаbiѕin diа dеngаn ѕеgаlа tеnаgаku…” сеlеtuknуа ibu2 itu dеngаn gеrеgеtаn.

Pеmbiсаrааn tеruѕ bеrlаngѕung ѕесаrа ngаk ѕаdаr аkuрun tеrbаwа ikut mеmikirkаn Imron… Aраkаh Imron itu реlаtih ѕеnаm уаng bаru 2 bulаn mеlаtih ditеmраtku уа…!!!, kаlаu lihаt сiri2nуа реndiаm dаn асuh ѕih…

”Tоkk… Tоk… Tоk…” Aku kаgеt mеndеngаr рintu kаmаr gаnti dikеtоk dаri luаr, аh kirаnуа сukuр lаmа jugа аku bеrаdа dikаmаr gаnti, сераt-сераt membereskan bаrаngku dаn kеluаr mеnuju hаlаmаn ѕеnаm, diѕаnа jugа mаѕih bаnуаk ibu2 bеrgеrоmbоl mеnunggu wаktu ѕеnаm bеrlаngѕung.

Aku duduk ѕеndiri ѕаmbil minum tеh hаngаt, tibа-tibа diѕеbеlаhku duduk еmраt оrаng ibu-ibu уg nаmраknуа сukuр сеntil dеngаn uѕiа уаng bеrvаriаѕi. Sаmbil bеrbаѕа-bаѕi diа mеmреrkеnаlkаn diri dаn аku аgаk tеrkеjut kаrеnа ѕuаrа dаn nаmаnуа ѕаmа dgn уаng аdа di kаmаr gаnti ѕеbеlаhku tаdi.

”Ehhh Mbаk Dinda kаn udаh lаmа ikut ѕеnаm diѕini, udаh реrnаh nуоbа-nуоbа rаѕа lаin ngаk ѕеlаin rаѕа ѕuаmi, mаinnуа раkаi аriѕаn bеrѕаmа… еnаk lhо mbаk, rugi lоh kаlаu ngаk nуоbаin” сеlеtuk mеrеkа bеrbiѕik-biѕik

“Sudаh lаh mbаk Dinda… Ikut аjа ѕаmа kаmi, rаhаѕiа раѕti tеrjаmin kоk,.. dаn уаng реnting аdа mеnu bаru tiар bеrtеmu” Sаmbil mеnаrik tаngаnku mеnuju hаllаmаn ѕеnаm.

Sеlаmа ѕеnаm kоnѕеntrаѕi mеnjаdi buуаr, аku ѕесаrа ngаk ѕеngаjа hаnуut оlеh рikirаn ibu-ibu itu, dаn kеbеtulаn реlаtihku hаri ini ѕi Imron. Kuреrhаtikаn ѕеkѕаmа Imron сukuр kеrеn jugа, bоdinуа bаguѕ, оtоt-оtоtnуа nаmраk kеkаr.

Alаmаk реrfесt bаngеt оrаng ini.” рikirku, аku jаdi bеrрikirаn уаng bukаn-bukаn, ѕеаndаinуа biѕа dараtkаn diа dаn раѕti bаkаl kulаkukаn ѕереrti di vidео2 роrnо itu” Gilа… рikirаnku jаdi tаmbаh jоrоk Sеѕudаh ѕеnаm уоgа ѕеlеѕаi dаn nуаmраi di rumаh, kuhеmраѕkаn tubuhku diаtаѕ kаѕur, рikirаnku bеrkесаmuk mеmbауаngkаn реrkаtааn ibu-ibu tеntаng mеnu bаru реnuh rаhаѕiа tаdi, рikirаnku mеnеrаwаng dаn mеlintаѕlаh bауаngаn Imron.

Sеоlаh-оlаh dаtаng dаn mеmеlukku, tаngаnnуа mulаi mеmbеlаi рunggung dаn turun kе bоkоngku. Dirеmаѕnуа реlаn-реlаn dаn kurаѕаkаn bеndа kеrаѕ diаntаrа ѕеlаngkаngаnnуа mеnеmреl di tubuhku, аku jаdi kеtаgihаn, kеgеliаn, kееnаkаn dаn…. Lаmbаt tарi раѕti tаngаnnуа mеnуеntuh dаdаku уаng kеnуаl, kurаѕаkаn реlintirаnnуа mеmbuаt реntilku mеnjаdi kаku dаn kеrаѕ..

Kriiiinngg… Krrriiiingg… Suаrа HP bеrdеring… ! Gilа аku jаdi mеmbауаngkаn dеngаn Imron bеgitu hеbаааt, bаdаnku bеrgеtаr rаѕаnуа dаn ѕаtu lаgi уаng kurаѕаkаn bаѕаh diѕеlаngkаngаnku. Aku bаngun bеrmаlаѕ-mаlаѕаn dаn kuаngkаt tеlероn.

”Hаllо… Mbаk Dinda аdа”

” Yа ѕiара ini уа…”

”Aduuh… Mаѕаk luра ѕауа Puji уаng ѕеnаm bаrеng tаdi lоh…”

“Gimаnа mаu ngаk ikut аriѕаn brоndоng…?” tаnуа nуа

“Ntаr dеh mbаk di рikir-рikir dulu uсарku mеngаkhiri tеlроn itu.”

Hinggа lаrut mаlаm аku ѕаngаt mеnginginkаn hubungаn ѕеx, kuсоbа dеkаti ѕuаmiku уаng udаh tеrtidur lеlар tеrgаmbаr kеlеlеhаn diwаjаhnуа, tарi bаrаngku udаh mulаi bаѕаh ingin di оlеѕ оlеh kеmаluаn ѕuаmiku. Kuсоbа mеmbаngunkаn diа, tарi diа mеnоlаk dаn hаnуа kеkесеwааn уаng kudараt mаlаm ini dаn tаnра tеrѕаdаr аkuрun ikut tеrtidur.

Kisah Ngentot Kepuasan Dari Lelaki Lain – Pаgi hаrinуа аku реrgi Yоgа lаgi, Suаѕаnа hingаr bingаr ruаng ѕеnаm kеmbаli kudеngаr dаn kulihаt ѕеkеliling kеmbаli bеrgеrоmbоl ѕеkеlоmроk ibu-ibu уg 3 hаri kеmаrin mеngаjаkku ikut dаlаm kеlоmроknуа. Sеnаm kаli ini аku bеnаr-bеnаr ngаk kоnѕеntrаѕi dаn bingung ара уаng hаruѕ аku lаkukаn, hаmрir ѕеmuа gеrаkаnku ngаk аdа уаng bеnаr. Sеtеlаh ѕеnаm bеrаkhir dаn ibu-ibu mеngаjаkku mеnuju tеmраt уаng tеlаh diѕеdiаkаn.

Sеbuаh rumаh уаng сukuр bаguѕ dеngаn hаlаmаn luаѕ dibеlаkаng tеrdараt kоlаm rеnаng, аku mеmbukа dеngаn kunсi уаng udаh diѕеdiаkаn, dаn kulihаt mеwаh ѕеkаli rumаh ini. Bеbеrара ibu2 аdа уаng mаndi duluаn.

”Bеgini Mbаk Dinda itu kunсinуа аdа limа kаn…? ѕаlаh ѕаtunуа kunсi diruаngаn уаng tеrtutuр ini, nаh nаnti kаlаu Mbаk Dinda udаh ѕiар bukа аjа kаmаrnуа ѕаtu-ѕаtu dаn lihаt ѕеndiri dеh аdа ара diѕаnа dаn еnjоу аjа di rumаh ini аmаn kоk.

Aku ѕеmаkin bingung bаgаimаnа nаntinуа. Aраlаgi tidаk lаmа kеmudiаn mеrеkа реrgi mеninggаlkаnku. Aku bingung mеlаngkаh аntаrа iуа аtаu tidаk, аku jugа tеringаt kiѕаh khауаlаnku dеngаn Imron. di ѕitu jugа аku tеringаt ingin mеnсоbаnуа.

Kulаngkаhkаn kаki dеngаn mеngunсi рintu, Cеtrеk !!!! рintu реrtаmа kubukа tарi kulihаt ѕеkеliling tidаk аdа ѕеоrаngрun, рintu kеduа kubukа Cеtrеk dаn, Dаrаhku mеninggi kеnсаng kаrеnа kuluhаt ѕеоrаng lеlаki tеgар dаn сukuр kеkаr mеmаkаi T-ѕhirt tеrѕеnуum. Aku mаlаh kесut dаn аku urungkаn lаngkаh kаkiku mаѕuk kаmаr tеrѕеbut, аku kеmbаli duduk diruаng tаmu. Kunуаlаkаn tеlеviѕi untuk mеnерiѕ kеguguраnku, tеtарi tibа-tibа аdа ѕuаrа dаri bеlаkаngku.

“Hаii… Aku Anton… Kеnара kоk ngаk ngоbrоl didаlаm аjа, tаdi kаn udаh bukа рintu” рintаnуа ѕаmbil mеngulurkаn tаngаn реrkеnаlаn.

”Hmmm.. Aku Dinda,,.” jаwаbku guguр dаn tаngаnku mulаi bеrkеringаt dingin.

Kuреrhаtikаn wаjаhnуа kеrеn dаn bаdаnnуа tinggi tеgар, оtоt-оtоtnуа jugа mеnоnjоl kеkаr. Anton dеngаn ѕаntаi duduk diѕеbеlаhku ѕаmbil mеrаngkul tubuhku, diа tаhu kаlаu аku guguр, lаlu diаmbilkаnnуа аku minumаn bir ѕаmbil diа mеmbukа реmbiсаrааn bаѕа-bаѕi.

Aku kаgеt duа kаli kаrеnа bеgitu аku mеnоlеh kе tеlеviѕi, kulihаt film роrnо уаng diрutаrnуа, diѕаnа tеrlihаt ѕеоrаng сеwеk уаng аѕуik mеnghiѕар kеmаluаn рriа, аku riѕih dаn mаlu tарi bаdаnku mulаi hаngаt dаri реlukаnnуа, tеrutаmа аdа rаѕа gеli diѕеkitаr раhаku ѕеbаb tаngаnnуа mеrауарi tubuhku.

Anton kеlihаtаn mulаi lеbih mеndеkаtiku, аku ngаk mеnghirаukаn mаtаku dаn tеtар ѕаjа kеаrаh tеlеviѕi, tаnра kuѕаdаri аku mulаi ikut hаnуut dаn kurаѕаkаn аdа bеndа kеrаѕ уg mеnеmреl di tubuhku, kulirik tеrnуаtа tаngаn Anton ѕеdаng аѕуik mеmijit tоkеdku. Ditеluѕuri lеhеrku dеngаn bibirnуа turun kеbаhuku… ditаriknуа реlаn-реlаn kаоѕku ѕаmраi kеlihаtаn tаli BH. Triknуа itu mеmbuаtku tаk tаhаn, diѕоfа аku dirеbаhkаnnуа реrlаhаn-lаhаn, dаn diа tаmbаh ѕеmаngаt mеnjеlаjаhi iѕi tubuhku.

Anton mеmbukа ѕеndiri kаоѕnуа dаn kulihаt dаdаnуа itu ditumbuhi bulu2 hаluѕ. Diа bеkеrjа ѕеndiri mеn-ѕеrviсе diriku. ditаriknуа kаоѕku ѕаmраi bеbеrара kаnсing tеrlераѕ hinggа ѕеkаrаng hаnуа tеrtinggаl BH dаn rоkku аjа. Diа jugа mеlераѕ BHku ѕеhinggа ѕuѕuku уg bеѕаr di jilаt-jilаtnуа, kurаѕаkаn lidаhnуа linсаh mеmbuаt nаfѕuku mеmunсаk, рutingku ѕеmаkin mеnjаdi kеrаѕ аkibаt gеѕеkаn lidаhnуа.

Puаѕ dеngаn tоkеdku, kini diа bеrаlаih kе bаgiаn bibirku, ѕаmраi-ѕаmраi аku tаk biѕа bеrnаfаѕ. Sеmuа реrmаinаn brоndоng ini mеnjаdikаn аku bеrkеringаt. Tаngаnnуа уаng bеbаѕ lаngѕung mеnjеlаjаhi bаgiаn mеkiku, tаngаnnуа mеngосеk-ngосеk mеkiku уаng bаѕаh kuуuр.

”Eееееh… Anton…. аduuuh” аku mеndеѕаh kееnаkаn

Akibаt реrmаinаnnуа аku jаdi tаk tаhаn, dеngаn роѕiѕi diа bеrjоngkоk wаjаhnуа mеnghiѕар lubаng mеmеkku. Bеgitu diа mеliаt wаjаhku, diа hаnуа tеrѕеnуum ѕаmbil mеmеgаng lеhеr k0ntоl dаn diа mеnуuruhku untuk mеmеgаngnуа. Alаmаk… tаngаnku ngаk сukuр mеmеgаng lingkаrаn раdа k0ntоlnуа itu.

”Kеnара kаmu kоk hеrаn lihаt уаng bеgini?” tаnуа Anton.

”Hmmm.. аku bingung, kirа-kirа ukurаn ѕеgini lеwаt gаk уа di рunуаku nаnti…?” Jаwаbku ѕаmbil tеtар mеmеgаngnуа.

Bеlum ѕеlеѕаi аku mеlаnjutkаn оmоngаnku lаgi, diѕоrоngkаnnуа kераlа k0ntоl itu kеmulutku, dаn Hmmmm… mulutku ngаk muаt mеnаmрung ѕеmuа k0ntоlnуа kеdаlаm. Kurаѕаkаn nikmаt jugа bаtаng ѕеbеѕаr ini. Sеdоtаnku kеluаr mаѕuk k0ntоlnуа mеmbuаt diа mеnjаdi ѕеnѕitif, аku jugа ѕеmаkin tеrаngѕаng.

Lаgi рulа kераlа k0ntоlnуа tеrlihаt lеbih luсu” рikirku dаlаm hаti. Sudаh рuаѕ bаtаng k0ntоlnуа аku ѕероng, lаlu diа mеnуuruhku untuk tеrlеntаng. Aku ngаk mеnоlаk, kulаkukаn реrintаhnуа. Sаmbil diа mеngаrаhkаn bаtаng реniѕnуа kе bаgiаn dераn bibir mеmеkku.

Crеееkkk… Blееееѕѕѕѕ… !!!

Diѕеrudukkаn kontоlnуа kе lubаng mеmеkku dаn аkuрun mеnjеrit kеnсаng аkibаt k0ntоlnуа уаng tеrlаlu bеѕаr.

Oооuhhhh… Aаааааhhhhh…” jеritku kеnсаng ѕеrаѕа ѕааt2 аku mаѕih реrаwаn rаѕаnуа, kаrеnа bаtаngnуа уаng tеrlаlu bеѕаr.

Kulihаt Anton mеnаmbаhkаn hаnd bоdу, ѕеbаgаi реliсin untuk mеnuѕuk lubаng mеmеkku.

”Anton udаh аh… ngаk biѕа mаѕuk lоh… tеrlаlu bеѕаr ѕih,” uсарku

”Sеbеntаr… tаhаn dulu уа bеb… ini udаh di оlеѕin kоk” Jаwаbnуа ѕаmbil didеѕаknуа mеmеkku dеngаn k0ntоl dаn ѕrеееt… ѕrеt… ѕrееttt.” tеrnуаtа diа bеrhаѕil mеmаѕukkаn kоntоlnуа kе lubаng mеkiku.

“Ouuuuuhhhhhh…. ” Aku mеnjеrit lаgi mеrаѕаkаn k0ntоl Anton tеrаѕа tеmbuѕ kе ujung dаging vаginаku, lаlu digеrаk-gеrаkаn раntаtnуа mеmbuаtku jаdi kееnаkаn. аkhirnуа bаnjir jugа mеmеkku dаn kurаѕаkаn еnаk bаngеt rаѕа mаju mundur diruаng dаlаm mеmеkku.

Sеѕеkаli раntаtku ditерuknуа untuk mеnаmbаh ѕеmаngаtku mеnggеnjоt k0ntоlnуа, ѕuѕuku dibiаrkаn bеrgеlаntungаn bеrgеrаk bеbаѕ ѕеmеntаrа tаngаn Anton ѕibuk mеmеgаng рinggulku mеmаju mundurkаn раntаtku. Sеѕеkаli jugа Anton mеnсiumi рunggungku ѕаmbil k0ntоlnуа tеruѕ bеrgеrаk kеnсаng. Aku jugа bеruѕаhа dеngаn mеnggеrаkkаn раntаtku kiri-kаnаn dаn k0ntоl Anton jugа ѕеаkаn tеrjерit оlеh bibir vаginаku.

”Aаааhhhhhh… Aаааааhhh…” dеѕаh Anton” аku tаu сiri khаѕ рriа kаlаu kеluаr ѕереrti itu раѕti аkаn оrgаѕmе.

”Sеbеntаr уа…” Kuсаbut k0ntоl Anton dаri mеmеkku dаn аku ѕеgеrа jоngkоk di hаdараnnуа.

Kisah Ngentot Kepuasan Dari Lelaki Lain – Kumаѕukkаn lаgi реniѕ itu kе dаlаm mulutku “Hmmmm… Hmmmm…” ѕаmbil kugеrаkkаn mаju mundur tаngаnku, dаn diа ѕеmаkin kееnаkаn. Tарi tаk lаmа kеmudiаn diа munсrаt

Crоооt… Crооооt… Crооооtt… Lаngѕung kurаѕаkаn mulutku реnuh dеngаn tumраhаn аir mаni Anton, ѕеgаr rаѕаnуа !!!

Jangan lupa kunjungi : Togel Online Terpercaya

Kubеrѕihkаn k0ntоl Anton dеngаn mulut dаn lidаhku dаri аir mаninуа, diреgаngnуа kераlаku ѕеаkаn diа ngаk mаu аku mеmbuаngkаn аir mаninуа kеluаr. Sеtеlаh itu Anton tеrgеlеtаk kеlеlаhаn dеngаn kеringаt уаng luаr biаѕа.Tаk tеrаѕа ѕudаh 24 jаm аku bеrаdа di rumаh ini.Kеmudiаn аku реrgi mеninggаlkаnnуа dеngаn kесuраn уаng mеѕrа, dаn аku mеnjаdi kеtеruѕаn mеngikuti асаrа ibu-ibu itu dеngаn bеrgаnti-gаnti раѕаngаn hеbаt dаn реrkаѕа.

Sеdаngkаn hubungаnku dеngаn ѕuаmi tеtар ngаk tеrgаnggu kаrеnа ѕuаmiku ngаk реrnаh mintа уаng аnеh-аnеh… Jаdi аѕаl аku tеrlеntаng di kаѕur. lаlu diа mаѕuk… kосеk-kосеk ѕеbеntаr аbiѕ itu ѕеlеѕаi. Mаkа untuk kерuаѕаn lаinnуа аku dараtkаn dаri lаki-lаki уаng lаin.
Share:

Kamis, 19 Juli 2018

Cerita Sex Bercinta Dengan Cewek Tetangga Saat Rumahnya Sepi

Cerita Sex - Kali ini ADMIN akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku berhasil menikmati tubuh anak cewek tetanggaku disaat rumahnya sedang sepi. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.


Perkenalkan nama saya Kenzo berasal dari kota Surabaya, saya tinggal di salah satu komplek yang ternama di Surabaya, di komplek tersebut masih tergolong sepi dan baru saja siap di bangun. Langsung saja cerita yang saya alami ini ya pada tanggal 16 Maret 2015 ada 1 keluarga yang pindah ke komplek tersebut, pada saat itu saya di luar lagi menghidupkan mobil saya dan anak tetangga ini keluar di rumah hanya menggunakan pakaian tidur yang sangat sexy, badan putih dan memiliki postur tubuh aduhay deh.

Pagi itu dia melakukan aktifitas seperti senam pagi, sedangkan saya masih di dalam mobil sambil melihat dia senam, belahan payudarah nya itu aduhay deh kalau anda liat anak tetangga saya ini kurasa kontol anda juga naik.

Kalau tidak salah lebih kurang di tanggal 25 Desember 2015 gitu, orang tua nya keluar negeri jadi tinggal anak nya gadis nya sama anak cowok nya di rumah, pada saat itu saya juga melakukan aktifitas jalan pagi di komplek tersebut, jadi anak tetangga ini juga ikut jalan pagi di komplek tersebut.

Pada saat itu kami berkenalan, sebut saja namanya Jenny dan berumur 21 Tahun ada sekitar 30 menit kami berbincang sambil jalan pagi.

Jadi saat itu saya dan dia tukar nomor handphone, di malam nya itu saya telphone sih Jenny, namanya cowok ya kalau udah dapat nomor handphone cewek pastinya pengen ngobrol aja, ya pertanyaan-pertanyaan yang saya tanyakan ke dia itu hanya mengenai masalah tentang pelajaran kuliah, tetapi pada saat itu sih Jenny tanya ke saya “Kamu sudah punya pacar?” pada saat pertanyaan ini di tanyakan ke saya, dan pas pulak saya masih jomblo.

“Belum punya pacar saya mah, mana ada yang mau” Ujar saya.
“Kamu terlalu merendahkan diri, Kenzo” Ujar dia nya.
“Jadi kamu udah makan belum?” Basa–basi saya sama Jenny
“Udah ini, soal nya di rumah ada masak, kamu udah makan Kenzo?” Ujar dianya lagi.
“Belum ini rumah gak ada makanan” Ujar saya.
“Ya udah kamu ke rumah saya makan saja” Ujar Jenny.
“Gak ah Jenny, malu saya nanti adek laki-laki kamu pikir kita ngapain lagi” Ujar saya pura-pura tanya adik nya ada di rumah atau tidak, ya dalam hati saya sih moga-moga tidak ada adek nya di dalam supaya bisa ehm.. Ehmm deh.
“Gak ada Jen, datang saja gpp soalnya adek saya udah keluar tadi pagi sama kawan nya” Ujar nya sih Jenny.

Wah dalam pikiran saya ini udah ada kesempatan untuk berdua sama dia, mana tau bisa dapat enak alias dapat bersetubuh dengan dia, sesudah percakapan saya selesai di telphone saya langsung bergegas pergi mandi dan langsung menuju ke rumah nya, sesudah di rumah nya sih Jenny membuka kan pintu wah asli putih dan bohay banget badan nya pakai celana pendek banget, payudarah nya besar banget dan bibir nya tipis munggil gitu. Jadi pada saat saya di rumah nya langsung di suruh makan dulu dan sih Jenny mandi.

Sesudah siap makan saya langsung bergegas ke ruang tamu sambil menonton TV, di saat itu saya melihat ada VCD yang terbuka di meja ruang tamu nya, saya lihat wah ini film bokep dalam pikiran saya wah ini cewek anak maen juga di bawah meja nya ada dildo pulak itu. Sih Jenny nampak nya buru-buru keluar dari kamar mandi dan terlihat saya lagi memegang VCD bokep yang tadi nya lagi di tonton nya.

“Jenny kamu hobby juga nonton bokep ya?? Hayoo” Ujar saya.
“Ng.. Akk ah.. Asal-asal aja kamu” Ujar sih Jenny dengan muka merah.
“Yah kalau kamu hobby jujur saja, saya juga hobby nonton bokep kok” Ujar saya sambil senyum nakal,
“Iya saya hobby nonton begituan, soalnya bosen di rumah sendiri sih” Ujar sih Jenny dengan muka makin merah.
“Terus ini dildo? Apa ini? Sering di maenin juga?” Ujar saya.

Pada saat saya memegang dildo nya itu nampak nya baru selesai di gunakan sama sih Jenny soalnya basah banget dildo nya.

“Ah kamu ini Kenzo, ya gak seru kalau nonton bokep tidak di temenin itu ma” Ujar sih Jenny sambil senyum nakal nya.

Dalam pikiran saya wah ini cewek mantap juga, jadi saya ajak sih Jenny duduk di karenakan dia masih berdiri dan melihat saya bengong gitu.

“Udah duduk dong Jenny kok bengong gitu di sana, saya juga bisa buat kamu lebih puas dari dildo ini loh” Ujar saya sambil ketawa-ketawa.
“Ah masa? Itu mu pasti kecil” Ujar sih Jenny sambil duduk di sebelah saya.

Pada saat itu saya langsung ambil tangan dia dan masukin ke dalam celana saya dan saya hanya senyum-senyum liat dia.

“Itu namanya kecil ya?” Ujar saya.
“Besar juga ya Kenzo.. Hehehe” Ujar sih Jenny sambil dengan muka penasaran nya.

Jadi pada saat itu langsung saya rangkul sih Jenny dan langsung dengan nafsu nya buka baju yang di pakai, termasuk sangat gampang buka nya dari belakang buka dan jreng sudah terlihat semua, di saat itu juga baju sama celana nya terbuka semua dan dia dalam keadaan bugil tanpa sehelaian benang pun di tubuh nya.

“Wahh Jenny badan kamu cantik bangettt” Ujar saya sambil menatap ke dua payudarah nya.
“Ah kamu nakal bener” Ujar dia sambil malu-malu kucing.

Saya langsung bergegas mengisap kedua payudarah nya yang nampak masih merah jambu,
“Uhmmm.. Uhmmmm sruppp.. Sruppp”
“Hmmm… Hhmmm ahhh” Desahan sih Jenny.
“Isap dong kontol saya sayang” Ujar saya sambil dengan nafsu yang sudah memuncak, dia langsung bergegas dan kegirangan membuka celana saya dan mulut imut nya itu langsung di emut nya kontol ku ini.
“Ahhh.. Ahhh… Ahhh bibir tipis kamu itu membuat saya nafsu bangettt sayanggg, pande banget emut nya” Ujar saya
“Diem dong ikh bising banget di emut gitu aja dah bising apa lagi udah masukin ke memek saya” Ujar dia.

Pada saat itu juga saya langsung menggendong sih Jenny ke kamar dan di eksekusi alias di kentotin hahaha, di saat itu juga langsung saya masukan kontol saya ke memek nya yang masih merah jambu dan sangat wangi banget.

“Ahhhhh… Ahhhhh… Ahhh honeyyy enak bangett…” Desahan sih Jenny.
“Laggiiiii honeyyy…. Ahhhh…. Ahhhhh…” Desahan nya lagi
“Sayanggg goyanggg nya cepat donggg” Ujar saya.
“Ahhhh…. Ahhhhhh… Ahhhhh…. Ahhhh sayangggg udah mau nembaakkkk” Desahan sih Jenny.
“Cepatt bangettt sayangggg… Ahhhhhhhh” Ujar saya lagi
“Ahhhhh… Ahhhhhh… Uhmmmm” Desahan Jenny dan Jenny sudah nembak tetapi saya belum nembak saya paksa terus masukin kontol saya sampai saya puasss…
“Ahhhhh.. Ahhhhh ahhhh honeyyy…. Sakitttt” Desahan Jenny
“Ahhhhh…. Ahhhh…. Ahhh……Crotttt” Akhirnya nembak juga.


TOGELWOW

Pada saat itu saya cabut kontol saya dan masukan ke mulut dia dan paksa dia untuk menghisap dan memberikan kontol saya dengan mulut nyaaa…

“Ahhhh emuttt lagi sayanggg” Sesudah 5 menit di emut nya, lemas juga saya dan saya bisik ke dia “Enakan mana dildo atau kontol asli?”, “ Enakan kontol kamu honey ahhhh” Desahan dia sambil memegang memek nya.


Share:

Cerita Sex Rela Diperkosa Polisi Perkasa Karna Suamiku Kecapekan

Cerita Sex - Kali ini ADMIN akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku rela diperkosa oleh polisi yang kekar karna suamiku kecapekan. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.


satu tahun aku berumah tangga, sementara kehidupan dengan keluargaku tenang tenang saja tanpa adanya masalah, panggil saja namaku Ratna aku bekerja di bagian keungan dan umurku masih muda 24 tahun setelah lulus aku langsung diterima kerja disini sebagai wanita aku mempunyai awajah yang menarik dengan kulit putihku, tinggi badanku 168 cm berat badanku 49 kg.

Sementara ukuran bra 34B. Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Irawan namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Irawan orangnya pengertian dan sabar.

Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Irawan menunaikan tugasnya sebagai suami.

Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel juga soal ranjang itu.

Bila Irawan sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal.

Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.

Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya.

Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Karno. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

Begini ceritanya saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

“Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Irawan menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Irawan sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karno itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk. Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan Pak Karno hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Karno yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

Setelah berbasa basi dan minta maaf, Irawan mengatakan kalau sepedamotor Pak Karno sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Irawan bercerita, Pak Karno tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Karno, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Karno kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.



Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karno di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karno itu segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karno. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karno kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Karno itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekedar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Irawan terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karno bila ia datang pas ada Irawan di rumah.



Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karno malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Irawan, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karno itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya.

Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karno. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. Ia makin mendekat.

“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.

“Mudah-mudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Karno pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Irawan, saya pun pergi ke rumah Pak Karno. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat.

Pak Karno kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Karno kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.

Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Irawan.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.

“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karno menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Karno kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya.

Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karno makin bersemangat.

“Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karno makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya.

Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal.

Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karno sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karno.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasakan. Irawan, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karno benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas.

Saya lihat Pak Karno menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karno naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.
TOGELWOW
Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundak. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karno mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan vagina.

Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karno itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung kontol Pak Karno mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karno pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya.

Bibir vagina saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karno. Hampir sepuluh menit Pak Karno asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Kuat juga stamina Pak Karno. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Karno masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Irawan.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karno. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Karno juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Irawan. Dan saya yakin Irawan juga tidak tahu samasekali saya dengan Pak Karno. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karno itu. Entah sampai kapan.
Share:

Rabu, 18 Juli 2018

Cerita Sex Sedarah Kakak Ipar

Cersexindowow - Aku memang ketagihan bermain cinta dengan wanita setengah baya alias STW. Ada lagi pengalaman nyata yang kualami. Pengalamanku menaklukkan kakak iparku yang pendiam dan agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku karena aku menjerumuskan orang baik-baik kedalam neraka nafsu.
Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami

Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari


Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.
Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.
Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.Cerita Sex Kakak Ipar
Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.
Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.Cerita Sex Kakak Ipar
Dengan tenangnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.
“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumah ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.
Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas smengetok pintu kamar Uni. “Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung.Cerita Sex Kakak Ipar
“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.
“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.Cerita Sex Kakak Ipar
“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja.
Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.Cerita Sex Kakak Ipar
“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.
Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.
Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam.
Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.
Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”Cerita Sex Kaka Ipar
“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya.Cerita Sex Kakak Ipar
Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.
Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya.Cerita Sex Kakak Ipar
Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.
Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.Cerita Sex Kakak Ipar
Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.
“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.
Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni. Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya.Cerita Sex Kakak Ipar
“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Uni sebelum kami sama-sama tertidur pulas.Cerita Sex Kakak Ipar

Mau Cerita sex lain nya yang lebih Hot ? 
Klik Link di bawah Ini :
Share:

Selasa, 17 Juli 2018

Cerita Sex Bercinta Dengan Istri Abangku DiKamar Ganti Kolam Renang

Cerita Sex - Kali ini ADMIN akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku bercinta dengan istri abanku di kamar ganti kolam renang. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.


Sambil berjalan-jalan, Muklis tak henti-hentinya menggandeng tangan Citra seerat mungkin, bahkan ia sengaja memeluk pinggang Citra, seolah Citra adalah benar-benar istrinya.

“Kamu mesra banget Klis nggandeng mbak…?” Celetuk Citra, “Nggak malu apa jalan ama wanita hamil kaya mbak gini…?”
“Hehehe… Ngapain malu mbak….. Punya Mbak yang cantik dan seksi kok malu… Justru aku malah pengen mamerin Mbak semokku ini ke orang-orang…” Jawab Muklis
“Hihihihi…. Iya deh klis…. Terserah kamu aja…”

Mendengar ‘ijin’ Citra, seolah membuat Muklis makin merasa jika Citra adalah istri tercintanya, sehingga ia pun semakin mendekap Citra erat-erat. Tak jarang, Muklis juga mengelus perut buncit Citra, seolah itu adalah anak kandungnya.

“Klis… Mbak nggak bakalan lari kok… Jadi nggak usah kamu rangkul Mbak kenceng-kenceng gini…”
“Hehehe… Ini tandanya Muklis sayang banget ama kamu mbak…”
“Sayang apa nafsu…? Wong ngerangkul kok tangannya disenggolin ke tetek mbak mulu…”
“Hehehe…. Berasa ya mbak….?”
“Iyalah… Dasar ipar mesum…. ” Celetuk Citra, “Udah ah.. Kamu tunggu sini aja ya…. Mbak mau pilih-pilih beha dulu…”

Tak beberapa lama, Citra pun akhirnya sibuk memilih beha yang ia inginkan. Beberapa kali ia mencoba memasang dan melepas beha diluar dressnya, sekedar mencari tau, ukuran cup apa yang paling nyaman untuk payudaranya yang ekstra besar.

“Kalo yang ini….Cocok nggak Klis…?” Tanya Citra
“Mana coba… Mmmm… Tetekmu mbaaak…. Makin empuk aja…Hehehehe…. ” Kata Muklis yang alih-alih mengomentari penampilan Citra, ia malah meremasi payudara Citra keras-keras.
“Iiiih… Muuklissss… Hihihii….” Jerit Citra yang sibuk menepisi tangan jahil Muklis dari payudaranya sambil tertawa geli, “Udah ahh… Makin lama kamu makin gila Klis…. Berani-beraninya kamu meremasi tetek mbak di tempat umum kaya gini…”
“Hehehe… Habisan aku selalu gemes Mbak liat tetek besarmu ini….” Jawab Muklis, “Kok sekarang jadi makin besar gitu ya mbak….? Jauh lebih besar daripada sebelum-sebelumnya….?”
“Hihihi… Khan aku lagi hamil Klis… Wanita… Kalo lagi hamil ya gini Klis… Teteknya membesar…. ” Jelas Citra, ” Khan isinya asi…. Buat persiapan besok kalo si dede bayi pengen netek…”

“Emang kalo asi khusus buat dede bayi ya mbak….?” Tanya Muklis
“Hiya lah…” Jawab Citra sambil mengelusi perutnya yang makin membulat, “Asi mah khusus buat dede bayi….”
“Kalo aku pengen asi gimana mbak…? Minta netek ama mbak boleh juga khan….?”
“Hush…pamali ah…. ” Jawab Citra, “Kalo kamu mau netek….Minta noh ama sapi…. Hihihihi….” Jawab Citra sambil meninggalkan Muklis guna kembali memilah-milah beha yang ia suka.

Merasa agak dicuekin, Muklis pun memilih duduk di kursi tunggu dan memainkan handphonenya. Sambil melihat-lihat photo Citra yang ia ambil dalam berbagai kesempatan, Muklis pun mulai tenggelam dalam lamunan joroknya.

“Itu istrinya ya Dek…?” Celetuk Yadi, penjaga counter berusia 32 tahunan, yang entah sejak kapan sudah berdiri di disamping Muklis.
“Eeeh…. Bukan… Itu Mbak ipar saya Mas… ” Jawab Muklis enteng tanpa melihat kearah Yadi, ia masih sibuk melihat-lihat photo Citra.
“Cantik banget ya…. ” Jawab Yadi spontan, “Beruntung banget ya Dek… Cowo yang jadi suaminya… Setiap hari bisa………” Kalimat penjaga counter itu sengaja tak diteruskan.
“Ngggg…. Beruntung setiap hari gimana Mas….?” Tanya Muklis sambil menghentikan lamunannya dan menatap kearah Yadi.
“Hehehe… Masa kamu nggak ngerti sih…. Ya beruntung bisa….. Kaya itu tuuuhh…. Hehehe….” Jawab Yadi sambil menunjuk kearah layar handphone Muklis yang sedang memperlihatkan gambar wanita hamil disetubuhi oleh seorang pria, “Hehehe… Kaya kamu nggak tau aja….”

“Hoalah… Ini toh…. Beruntung bisa ngentotin Mbak ipar saya…? Gitu Maksudnya…? Hahaha…” Kata Muklis vulgar sambil tertawa renyah. ” Yaiyalah… Mas juga kalo punya istri pasti bakalan bisa ngentotin istri mas tiap hari….”
“Hehehe…. Tapi istri saya nggak secantik Mbak iparmu Dek…” Kata penjaga counter itu, “Enak banget kali ya Dek… Bisa tiap hari begituan ama Mbak iparmu….”
“Hehehe Iyalah….” Jawab Muklis sambil menatap kearah Citra yang masih terlihat sibuk memilah-milah barang pilihannya.
“Pasti…. Beruntung banget tuh suaminya….Punya istri secantik Mbak iparmu Dek…” Puji Yadi.
“Ngggg…..Tapi… Suaminya juga nggak seberuntung itu kok Mas… ” Kata Muklis
“Hah….? Maksudnya…?
“Hehehehe……” Selain Masku… “Aku juga bisa kok ngentotin Mbak iparku setiap hari….”

Dengan tatapan heran, penjaga counter itu menatap kearah muklis dengan mulut yang menganga lebar.
“Serius…..? Kamu selingkuh dengan Mbak iparmu…?”
“Hehehehe…. Iya….Mas nggak percaya….? Mas mau bukti….?”

Tak mampu menjawab, Yadi hanya bisa diam sambil menganggukkan kepalanya,
“Hehehe… Kalo aku bisa kasih liat… Mas jangan sampe pengen ya….?” Goda Muklis ketika melihat Citra melangkah mendekat ke posisinya duduk.

“Eh klis… Beha yang kaya gini bagus nggak Kalo Mbak pake…?” Tanya Citra sambil menunjukkan beha pilihannya.
“Aaah.. Bagusan mah ga pake beha mbak…” Kata Muklis sambil berdiri dan mendekat kearah Citra.
“Iiihh.. Nakal kamu ya… genit….” Canda Citra sambil melirik ke arah Yadi, si penjaga counter, “Kalo yang ini Klis…?”
“Jelek mbak… Serius deh… Mbak nggak cocok kalo pake beha yang itu…”
“Iiiihh… Mukliiiisss… Kalo nggak ada yang cocok, trus Mbak cocoknya pake beha yang mana dong….?”
“Hehehe… Mbak Citraaa… Khan udah aku bilang daritadi… Bidadari kaya kamu mah harusnya nggak pake beha Mbaaak…. Cantiknya tuh telanjang…. “Goda Muklis, “Bener nggak mas….?” Tanya Muklis pada penjaga counter yang sedari tadi mengamati percakapan Muklis dan Citra.
“Eeeh…. Hiya Dek….”
“Tuuuuh… Khaaannn… Bener apa kataku Mbak…. Kamu memang lebih cakep kalo bugil…”
“Iiiihh… Apaan sih Klis….” Balas Citra genit, “Dasar otak mesuuuummm…. Awas ya… Ntar mbak gigit loh kontol kamu….” Bisik Citra sambil mencubit pinggang Muklis.
“Aaaawwww….Hehehe…. Kaya berani aja kamu mbaak..” Balas Muklis sambil berbisik ke telinga Citra.
“Iiiihh… Nantangin yaaa….”

“Iya dooong… Nih… Gigit aja kalo berani….” Kata Muklis yang tanpa malu karena masih ada Yadi disampingnya, tiba-tiba menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan batang penis besarnya
“Heeeeehhhh…. Muklisss…” Bingung Citra panik.
“Ayoooo… Ini gigit… Katanya berani….” Goda Muklis sambil menepuk-tepukkan penisnya yang mulai ereksi kepaha kakak iparnya.
“Adek ipar gila… Ini khan ditempat umum Kliss….” Kata Citra yang buru-buru memeriksa kondisi sekitar.
“Hehehe… Ayolah Mbak… Kita ngentot ditempat umum yuuukkk… ”

“Apaan sih….” Jawab Citra malu-malu karena tatapan Yadi yang sedari tadi tak henti-hentinya tertuju padanya.
“Ayolah Mbaaak…. Habisan daritadi aku dikasih liat tetek besarmu mulu…. Aku jadi pengen banget ngentotin kamu nih…. ” Kata Muklis yang terus menepuk-tepukkan batang penisnya ke paha Citra.
“Hihihi… Iya iya… Nanti yaa… Sekarang kamu bantu mbak cari beha yang cocok buat mbak…”
“Nggak mau ah… Aku pengennya ngentotin memek sempitmu sekarang Mbak…. ” Kata Muklis sambil merogoh kearah celana dalam kakak iparnya.
“Masa sekarang sih Klis…?” Bingung Citra.

“Eh Mas… Kamar ganti ada dimana sih….?” Tanya Muklis sengaja bertanya kepada Yadi.
“Nggg… Di pojokan sana Dek….” Jawab Yadi.
“Hehehe… Makasih Mas….” Jawab Muklis sambil mengedipkan matanya kearah Yadi.

“Yuk Mbak… Ikut aku…” Ucap Muklis sambil menggandeng tangan Citra dan menuju ke ruang ganti pakaian.

Tanpa memasukkan penisnya yang sudah menjulang tinggi, adik ipar Citra itu buru-buru bergegas menuju keruangan ganti dan itu segera masuk kedalam ruangan paling pojok.

“Iihh… Muklis… Apa-apaan siiihhh….?”
“Ayolah Mbaaak… Aku pengen banget nih nyobain ngeseks di tepat umum…”
“Tapi aku khan malu Klisss..”

Mendadak, Muklis tersenyum. “Aahhh… Nggak mungkin… Mbak suka kok…”
“Yeee… Kata siapa….?”
“Kata Mas Seto…. Dia bilang mbak suka banget dientotin ditempat umum…”
“Hadeeeeh… Dasar tetangga comel….”
“Yaudah mbak… Ayo sekarang isep kontolku… Aku pengen ngentotin kamu niiiihhh…”

Sambil celingak-celinguk, Citra lalu mengintip keluar.
“Tapi nanti kalo disamping ada orang gimana Klis… Kalo dia denger gimana…?”
“Hehehe… Yaudah… Diajak aja sekalian mbak…” Jawab Muklis enteng sambil menekan pundak Citra turun, berusaha membuat Citra segera jongkok di depan selangkangannya.
“Iiihhh… Daaassssaaaar… Daritadi kok kamu maunya ngajakin orang buat ngentotin mbak sih…? Emang kamu suka ya kalo mbak dipake ama banyak orang…?”
“Hehehe… Yaaah… Namanya juga imajinasi mbak…”

“Emang kamu rela memek mbak dientotin banyak lelaki lain…?”
“Yaaa.. Kalo itu sih suka-sukanya Mbak aja… Kalo mbak mau… Kenapa harus ditolak… Hehehe…”
“Sumpah ya Klis…. Otak mesummu itu loh… Kok nggak pernah ada habisnyaaa…”
“Hehehe… Ayo mbak… Jongkok… Kontolku udah nggak tahan lagi nih… Udah senut senut…”
“Ye iyeee….”

Buru-buru Citra segera menarik penutup ruang ganti itu. Namun karena tarikannya terlalu keras, sisi kain diujung satunya jadi sedikit tertarik, dan membuat penutup kain itu terbuka sedikit.
“Aaaaaa… Haaaeeemmm… Sluurp sluuurp..” Suara mulut Citra mulai beraksi.
“Huuoohh enak banget mbaaaaak…” Lenguh Muklis keenakan.

“Sluurp… Cup cup…. Puas Klis….?” Tanya Citra, “Haaaeeemmm… Sluuurrppp….”
“Huooohhh.. Puas Mbaaaak….. Uhhh….” Ucap Muklis, “Ini teteknya jangan ditutupin gini ya mbak…. Dressnya diturunin aja…” Tambah Muklis sambil mempelorotkan dress kemben Citra. “Naaah… Kalo gini khan makin seru… Bisa diremes-remes…”
“Ssssttt…. Klisss….Remes teteknya pelan-pelan…. Tetek mbak ngilu nih…”

“Hehehe… Ngilu apa pengeeenn… Eh Mbak… Udah ah isep-isepnya… Ayo bangun… Aku udah nggak tahan pengen cepet-cepet ngontolin memekmu nih…”

Buru-buru, Citra segera berdiri dan membalikkan badannya menghadap cermin. Dengan hanya menyampirkan sisi celana dalamnya kesamping, Muklis pun menempatkan kepala penisnya pada vagina kakak iparnya. Dan dalam hitungan detik, lelaki ceking yang masih berpakaian lengkap itu segera mendorong kepala daging kebanggaannya itu kuat-kuat ke vagina Citra.

SLLEEEEEEEEP..

“Uuuuhhhh…. Muukk…..Kliiisss…. Pelan-pelan sayang…. Ssshh… Oohh….” Lenguh Citra keenakan ketika kepala penis adik iparnya menyeruak masuk kedalam sempitnya liang senggamanya.
“Huoohh… Mbaaak… Banjir banget gini memekmu… Kamu udah sange juga ya ternyata…?”
“Hihihi… Kalo hamil ya gini Klis… Memek Mbak jadi gampang banget banjir…. Hihihi….”
“Aaah…. Tipu….. Bilang aja kalo memek nakalmu udah kangen banget ama sodokan kontol adik iparmu ini Mbak…. Hehehe…”

Dengan kasar, Muklis segera menyodokkan sisa batang penisnya dalam-dalam ke liang vagina kakak iparnya. Tusuk, cabut, tusuk, cabut, tusuk, cabut. Dan setelah dirasa batang penisnya cukup basah, ia pun mulai membombardir vagina sempit Citra dengan kuat. Saking kuatnya sodokan penis Muklis membuat dinding kamar ganti itu ikut-ikutan berderit berisik.

KRIET… KRIET… KRIET…
PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Sssttt…. Klisss… Uhh… Uhhh…Nyodok memeknya jangan kenceng-kenceng Kliiiissss…” Tegur Citra sambil menggapai pinggang adik iparnya, “Nanti ada orang yang dengeeer looohh….. Uhh… Uhhh…”

Benar saja, dari pantulan cermin yang ada dihadapannya, Citra bisa melihat jika diluar kamar gantinya, ada orang yang mengintip melalui tirai yang tak tertutup itu.
” Uhh… Uhh… Klisssss…. Pelan-pelan nyodoknya Klisss…. Diluar… Uhh… Uhh….. Ada orang….” Kata Citra berusaha mengingatkan adik iparnya.
“Nggak apa-apa mbak… Kamu santai aja….” Kata Muklis yang walaupun mendengar peringatan Citra, ia hanya tersenyum. Malahan tak jarang Muklis malah sengaja semakin memperkeras sodokan pinggulnya, seolah benar-benar ingin memperlihatkan persetubuhan kasarnya itu kepada si pengintip.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
KRIET… KRIET… KRIET…

“Ssssttt… Kliiisss…. Pelan-pelan Klissss… Ooohh… Ooohh… Ooohh…” Lenguh Citra yang biarpun ia tahu jika ada pengintip diluar kamar gantinya, ia tetap saja menikmati persetubuhannya. Malah anehnya, sensasi diintip itu membuat dirinya semakin bernafsu. Membuat dirinya entah kenapa ingin memamerkan kenakalan dirinya lebih jauh lagi.

Dengan gerakan erotis, Citra berusaha menstimulus titik birahinya dengan kedua tangannya. Tangan kanan mengobel klitoris dan tangan kiri mencubit serta meremasi puting payudaranya.
“Ooohh… Klissss…. Terus sodok memek mbak sayang.. Terussss….” Pinta Citra manja. “Terus entot memek Mbakmu yang sedang hamil ini Klisss… Terus entooottt…. Oooh… Oooh…”

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK
KRIET… KRIET… KRIET…

” Hhh…. Kamu suka ya mbak..? Dientotin adik iparmu….?”
“Ssssshh…..Suka Klis…. Ssuka bangeeet…. Oooh… Oooh…”
“Jadi…. Enak mana mbak…? Dientot kontol kecil Mas Marwan…..? Atau… Dientotin ama kontol besar adik iparmu…?”

“Uuuuhhhh… Muklis aaaahhhh…..” Jawab Citra genit tanpa menyebutkan siapa yang lebih enak.
“Hehehe…. Ayolaaaah ….. Jawab aja mbaaakk…” Ujar Muklis yang tiba-tiba menghentikan sodokan penisnya, “Kalo kamu nggak jawab….. Aku ajak mas-mas yang ada diluar buat mbantuin aku ngentotin memek hamilmu loh…. Hehehehe….”
“Uuuhhh… Apaaan sih Klisss…..”
“Hehehe… Makanya… Buruan jawaab Mbak…. Enak mana…? Dientot kontol kecil suamimu…..? Atau… Dientotin ama kontol besarku…?” Tanya Muklis yang tiba-tiba, menjilat telunjuknya lalu menusukkannya kedalam anus Citra.

CLEP

“Uuuuuoooohhhh….. Kliiiisssss…. Ampuuuunnnn…… Jangan siksa Mbak kaya gini doooong….” Lenguh Citra yang merasakan gelijang nikmat ketika telunjuk Muklis mulai dimainkannya di lubang anusnya. Masuk, keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk….”

“Ampuuun Kliiiiissss… Ampuuunnnn…” Erang Citra yang merasakan orgasmenya akan segera tiba.
“Hehehe…..Makanya… Ayo buruan jawab Mbaaak….”

“Iyaaa… Enakan dientot ama kamu Klis….” Seru Citra sambil menggerak-gerakkan pinggulnya, berusaha mengais kenikmatan dari penis Muklis yang masih diam menyumpal mulut vaginanya.
“Enak ama aku gimana maksudnya Mbak….? Hehehe….” Goda Muklis makin mempercepat tusukan jari telunjuknya pada anus Citra.

“Oohh Ooohhh… Ngentot kamu Klis…. Ngeeeentooooottt….Enakan kontolmu Klis. Enakan dientot kontol besarmuuuuu….. Ngeeentott. Jerit Citra yang dengan tubuh menggelijang tak beraturan. Ayo entot memek Mbakmu lagi Kliissss.. Entot memek istri Masmu iniiii. Mbak udah nggak kuat klis. Mbak udah nggak kuat lagiiii Erang Citra keras, seolah tanpa malu lagi meminta Muklis untuk segera menyetubuhinya keras-keras.

Naaaah. Kalo ngaku gitu khan enak Mbaaaak. Hehehehe Ucap Muklis yang dengan kecepatan tinggi, segera mengabulkan permintaan mesum Citra. Rasain sodokanku kontol besarku ini Mbaaak. Rasain tusukan kontol adik iparmu ini.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

Dengan geraskan kasar dan cepat, batang penis Muklis yang berukuran ekstra besar itu segera menyetubuhi vagina sempit kakak iparnya. Membuat vagina tanpa bulu Citra tak henti-hentinya mengeluarkan pelumas bening guna memperlancar persetubuhan mereka. Saking banyaknya, lendir bening itu berubah menjadi busa keputihan.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Sssshhh… Ngentot kamu Klisss Kontolmu enak bangeeeettt.. Oooohh.. Ngentooottt.. Klisss…. Mbak mau keluar… Uhh… Uhhh… Uhh… Uhhh…” Jerit Citra dengan mata merem melek keenakan.
” Uhh… Uhhh….. iya mbak Aku juggaaaahhh. Memek lontemu yang sempit ini aku juga bikin aku mau keluar mbaaak… Pengen buru-buru ngecrotin memekmu Mbaaakkk. ” Kata Muklis yang disela-sela tusukan brutal penisnya, masih saja mempermainkan lubang anus Citra. Aku mau keluar Mbaak

“Oohh ohhh ohhh… Keluarin di dalem bo’ol Mbak aja klis… Jangan dimemek. Dibo’ol aja yaaaahhh….”
“Ooohhh… Nggak bisa Mbak. Aku udah nggak tahan mbak… Aku mau keluaaarrr…”
“Yaaah.. Tahan bentaran Klis… Buang dibool Mbak aja…. jangan di memek… Uuuh…. Uhh… Uhhh….”
“Aaahhh… Aaaahh…. Ngeeentooottt…..Aku nggak kuat lagi mbaaakk….Ngeeenttooooooottttt….. Mbaaaak Ciiitraaaa….. Aku keluar Mbaaakkk…..”

CROOT… CROOOT….CROOOCOOOT….
Terlambat… Sperma hangat Muklis sudah terpancar deras menyerbu rahim Citra.

” Ooohh…. Ooohh…. Ngeentoottt kamu Kliiiiisssss..Ngeeeentooooottt… Gerutu Citra sambil terus menggoyangkan pinggul semoknya. Berusaha menyusul Muklis yang sudah orgasme duluan.
Maaaaaaf Mbak Memekmu bener-bener buat kontolku nggak tahaaan. Hhhh. Hhhh. Erang Muklis sambil menghentak-hentakkan pinggulnya, menguras semua persediaan spermanya.

Ssshh. Ngeentoooott. Yaudah Goyang terus kontolmu Klissss…. Mbak juga mau keluaaaarr sekarang….. Ooohhh…. oohhh… Terus Klisss… Mbak mau keluaaar… Ooohh… Mbak mau keluaar …. Ooohhhh… Ngeeeeeenttttoooooooottt….. Oooh… Oohhh…”

CREEETT… CREEEEETTT….CRREEEEECEEEEEETTTT….

Mendadak. Tubuh hamil Citra pun bergetar hebat. Pantatnya bergoyang-goyang, kakinya menekuk-nekuk dan lututnya melemas. Tak lama, iapun ambruk kebelakang, menimpa tubuh Muklis yang juga ikutan terjatuh ke lantai kamar ganti. Sejenak. Mereka berdua diam bersimpuh, mencoba mengatur nafas dan menikmati sisa denyut orgasme yang baru saja mereka dapatkan.

“Ooohh Ngentoott kamu Kliss… Pake keluar didalem memek Mbak…. Ucap Citra lirih dengan nafas putus-putus. Matanya terpejam dengan gigi menggigit bibir, Mana banyak pula Oooohhhhh…..”.

“Hehehe. Habisan kamu cantik banget sih Mbak… Juga seksi…. ” Puji Muklis puas sambil mengusapi rambut panjang Citra dari belakang sembari terus meremasi payudara besar milik kakak iparnya itu.
Ahhh. Gombal. Udah kena jepit memek aja langsung deh Muji -muji.
Iiiihhh Enggak lah Mbak aku mah kalo berkata selalu jujur Kamu cantik. Tambah Muklis lagi sambil mengecupi pundak Citra dan tersenyum yang melihat ekspresi kepuasan orgasme di wajah istri kakak kandungnya dari pantulan cermin, “Dan sumpaaah mbaaakkk…. Memekmu….. Enak baaangeeeetttt….”
Hihihi. Enak ya Klis?
Huenak banget Mbak. Bikin nagih mulu Kata Muklis sambil mengejan-ngejankan otot penisnya, berusaha mengosongkan kantung zakarnya sampai habis.
“Oooohhh…… Kontolmu juga enak sayang….. Enak banget malah…. Hihihi….”
Hehehe. Muklis gitu looh. Sombong remaja tanggung itu sambil mencoba mengangkat pantat kakak iparnya itu untuk segera terlepas dari tusukan batang penisnya. Busyeettt Kamu sekarang berat juga ya Mbak?

PLOOOP…
Suara vagina Citra ketika tercabut dari tusukan penis Muklis, memperlihatkan lubang berwarna merah segar yang menganga lebar. Seketika, lelehan sperma langsung mengalir keluar dan menetes turun menggenangi lantai kamar ganti.

“Uuuuuhhhh… Ngeentoott… Pelan-pelan Klis… Memek Mbak masih Ngilu….Hihihi…” Lenguh Citra sambil berusaha menikmati sisa gelijang orgasmenya. Sumpah Pejuhmu banyak banget Klisss
“Hehehe… Enak khan mbaak seks kilat ama aku….?” Tanya Muklis sambil buru-buru berdiri dan menepuk-tepukkan penisnya ke pundak Citra yang masih duduk bersimpuh dilantai. Lalu dengan santai, ia memeperkan batang penisnya yang masih belepotan sperma dan lendir kewanitaan Citra ke belakang dress Citra.
“Iiiiihh… Muuuuuuklisss… Khan dress Mbak jadi kotor…” Protes Citra.
“Hehehe… Nggak apa-apalah Mbak… Khan jadi bisa skalian beli dress baru….” Canda Muklis sambil menjejalkan batang penisnya yang masih belepotan sperma ke mulut mungil Citra, “Sekarang Ayo mangap mbak…. ”

“Eeh… Ehh…. Bentaaran Klis…”
“Ayo isep…. Bersihin kontolku mbak…”
“Eeh… Aheemmm…. Haaaemmmm…. Sluuurp sluuurpppp….”

Tanpa memperbolehkan Citra berkata apa-apa, Muklis berulang kali membenamkan batang penisnya yang masih meneteskan sperma kedalam mulut kakak Citra. Memperlakukan mulut mungil kakak iparnya itu seperti tempat pencuci penis besarnya.

“Sluuurp sluuurrrpp…. Cuuuppp…. Muaaah… Haaaah….. Udah nih Klis.. Udah bersih….”
“Hehehe…. Makasih ya Mbakkuuu sayaaang….. Muuuaaaahh….” Kecup Muklis pada dahi Citra dan segera memasukkan penis besarnya kembali kedalam celananya.

Dengan santai, Muklis membuka tirai kamar ganti tempat mereka menuntaskan hasrat birahinya dan melangkah keluar, tanpa mempedulikan Citra yang masih setengah telanjang dibelakangnya.

“Gimana mas….? Puas khan ngeliat pertunjukan kami….?” Tanya Muklis pada Yadi yang sedari tadi mengintipp dari luar kamar ganti.
“Eeeh I Iya.Hebat kamu Dek…. ” Puji Yadi, “Sumpah… Kamu bener-bener hebat….” Tambahnya lagi sambil terus-terusan mengatur posisi batang penisnya yang menegang keras.

“Klis…. ” Panggil Citra manja dari dalam kamar ganti, “Tungguiinnn Mbak dooong….”
“Hehehe… yaudah buruan kesini Mbak….”

Buru-buru, Citra beranjak keluar. Meninggalkan kamar ganti dan menemui Muklis yang masih terlihat mengobrol dengan Yadi
“Permisi Mas… ” Ucap Citra ketika berjalan melewati adik ipar dan petugas penjaga counter itu.

Mendadak, Citra merasakan ada perasaan aneh ketika dirinya berjalan melewati Yadi. Perasaan nakal yang entah kenapa ingin selalu ia pamerkan. Dan, entah mendapat keberanian darimana, Citra ingin menggoda petugas penjaga counter itu.

“Dasar adik ipar nakal. Masa sama Istri Mas sendiri nafsu gini sih…. Kata Citra sembari mencubit perut kurus Muklis. ” Sampe-sampe Mbak dikerjain habis-habisan dikamar ganti umum gini.”
Aduh…. Salah Mbak sendiri punya body cantik nan seksi… Aaaawwww. Aduuuhhh.. Hehehe. ”
Mbok ya kalo mau ngerjain tubuh Mbak…. Bawa ke hotel kek… Khan Mbak jadi malu kalo diintipin orang lain. Tambah Citra sambil melirik kearah Yadi yang sedari tadi masih terdiam tegang,
“Hehehe… Habisan… Gara-gara memek Mbak juga sih… Kenapa juga rasanya enak banget…. Khan jadinya pengen ngentotin Mbak mulu. Hehehe..
Huuuu. Tega Tega Tegaaa. Goda Citra terus-terusan mencubit perut Muklis tanpa henti.
Hahaha Udah mbak Ampun Ampunnn.

Tertawa dalam hati, Citra merasa geli melihat apa yang sedari tadi dilakukan Yadi. Terlebih ketika melihat tonjolan yang ada dibalik celana kerjanya. Tak henti-hentinya, petugas penjaga counter itu mengutak atik posisi penisnya supaya terasa nyaman didalam celana kerjanya. Matanya tak berkedip sedikitpun, menatap kearah payudara putih dan kaki jenjang Citra yang begitu mulus. Mulutnya berkali-kali berusaha keras menelan ludah, berusaha membasahi ternggorokan keringnya.

Eh Klis…. Mbak mau ke toilet dulu ya… Mau bersih-bersihin baju ama……………. Peju kamu….” Goda Citra sambil melirik kearah Yadi lagi.
“Eeehh….Yaudah sana Bersihin yang bener yak Biar aku bisa buang pejuh dimemek Mbak lagiHehehe” Jawab Muklis diselingi candaan mesumnya.

“Nggg. Mas…. Toiletnya dimana ya….?” Tanya Citra dengan senyum genit kearah Yadi sambil mencoba membetulkan dressnya yang terkena cipratan sperma Muklis, “Aku mau cuci-cuci memek… Eeh… Muka dulu…..” Tambah Citra dengan nada menggoda.
“Ngggg GLUP…. Ehhh…. Di…. Di… Sebelah sana Neng….” Jawab Yadi dengan nada tercekat dan kalimat yang terbata-bata.
“Makasih yaaa Maaaaas….” Jawab Citra sambil melangkahkan kaki menjauh.

Dengan perasaan riang, Citra berjalan kearah kamar mandi. Langkah kakinya berasa begitu ringan, dan gerakan tubuhnya begitu bersemangat. Bahkan, ia ingin menari saking gembiranya.

Memamerkan tubuh tuh ternyata seru juga ya.? Menegangkan Juga sekaligus menyenangkan Batin Citra sambil terus melangkah kearah toilet.

Walau pagi itu Mall masih sepi, namun tetap saja, Citra menjadi idola di mata-mata mesum para lelaki yang ada disekitarnya. Dengan wajah cantik, perut hamil, payudara besar, kulit putih dan dress yang mini, tak sedikit lelaki yang menatapi kemolekan tubuh kakak ipar Muklis itu.

Bahkan untuk semakin menggoda para lelaki itu, Citra sengaja menurunkan dress mininya. Sengaja memamerkan gundukan payudara besar tanpa behanya yang seolah ingin meloncat keluar dari kurungan dressnya. Tak jarang, ia juga sering sekali berpura-pura menjatuhkan dompet atau jepit rambutnya, dan mengambil barang tersebut dengan cara menungging atau membungkuk. Sengaja memperlihatkan kemolekan kaki jenjang atau pantat bulatnya kepada orang yang ada dibelakangnya.

Dan ini yang aneh. Semakin jauh Citra melakukan kenakalan, semakin membuat darah birahinya meletup-letup hebat..

“Dek…” Tiba-tiba, terdengar suara seorang pria yang terasa begitu akrab ditelinganya.

Dengan rasa penasaran Citrapun menengok kearah suara itu berasal.

“Eeeeh….? Mas Marwan…..?” Kaget Citra ketika mendapati suaminya bersama beberapa teman lelakinya yang tiba-tiba muncul dari sudut Mall.
“Kok… Kamu nggak ngantor…?” Tanya Marwan sembari mengamati penampilan istrinya yang terlihat berantakan. Rambutnya disanggul acak-acakan, dressnya miring miring, dan wajahnya penuh keringat. “Ehhh… Anu….”
“Kok… Penampilanmu berantakan gini Dek..?” Heran Marwan, “Mirip orang yang habis berolahraga…?”

“Wah runyam ini kalo aku sampe ketahuan habis dientotin adik kandungnya…” Kata Citra dalam hati

“Eh anu… Iya mas… Ini…. Aku tadi belanja baju dulu… ” Jawab citra yang buru-buru berbalik badan guna menyembunyikan lelehan sperma Mukhlis yang masih ada di belakang dressnya.
“Lha… Trus….? Bajunya mana….? Trus kamu ini mau kemana Dek….?” Tanya Marwan lagi penuh selidik.
“Anu Mas…Bajunya…. Ada sama Muklis….” Jelas Citra, “Ini aku mau ke toilet bentar Mas…. Aku udah kebelet banget ini…” Kata Citra yang terus bergerak menjauh dari posisi suaminya berdiri.

“Ooooh gitu ya Dek… ?” Ujar Marwan sambil menghela nafas, ia lalu menengok ke samping, kearah teman-teman prianya yang sedari tadi menyenggol-nyenggol sikut Marwan.

Sepertinya teman pria suaminya ingin berkenalan dengan Citra. Karena sedari tadi, ia tak henti-hentinya tersenyum melihat kearah Citra.

“Dek… Kenalin ini Pak Poniran…Beliau yang punya tanah proyek di kota….” Ucap Marwan yang akhirnya memperkenalkan istrinya kepada relasi bisnisnya, “Yang dibelakangnya itu ajudannya, Yongki dan Bolod…”
“Poniran….” Kata pria bertubuh pendek tambun itu sambil menjulurkan tangan dan mengamit tangan Citra, “Panggil saja saya Mas Iran… Hekhekhek…”

“Waduh…. ” Batin Citra bingung, karena ia merasa jika tangannya masih terkena belepotan sperma adik iparnya. Namun, demi menghormati teman suaminya, Citra buru-buru mengoser-oserkan telapak tangannya ke dress, mencoba membersihkan telapak tangannya sebelum menyambut jabatan tangan pak Poniran itu.

“Citra Agustina…” Ucap Citra.
“Waaahhh… Nama yang cantik… Secantik yang punya…” Rayu Pak Poniran
“Ngg…. Makasih pak…”
“Loooh… Marwan… Kamu kok nggak cerita sih kalo binimu hamil….?” Ucap Pak Poniran yang tanpa seijin Citra tiba-tiba mengusapi perut hamilnya. “Udah berapa bulan Neng…?”
“Eeh… Anu… Udah jalan empat bulan Pak…”
“Waaaahh… Hebaaat…. ” Kata Pak Poniran yang terus mengusap perut Citra sambil ataşehir escort 27
sesekali melirik kearah payudara besarnya. “Tapi…. Kayaknya kamu sedang nggak enak badan ya neng…?” Tanya Pak Poniran lagi,” Tangan kamu dingin banget…” Tambah Pak Poniran yang kembali menggenggam tangan Citra.
“Ehhh… Ngggg… Iya Pak… ” Jawab Citra sekenanya.

“Istriku Ini bandel pak… Harusnya hari ini ia ke dokter… ” Omel Marwan, “Eeeehhh…. Nggak tau kenapa… Dia malah jalan-jalan ke Mall….”
“Oooo… Istrinya bandel… Hekhekhekhek….” Kata Pak Poniran sambil terkekeh, “Nggak apa-apa ya Neng… Jaman sekarang…. Istri bandel khan udah biasa yaaa… Hekhekhek….”
“Eh… Iya pak….”

Mendadak, ditengah percakapan Citra, Marwan dan Pak Poniran, istanbul ataşehir escort Citra dikejutkan oleh sesuatu yang mengalir turun ke kaki mulus Citra. Sesuatu keluar dari vaginanya.

“Eh Neng… Apa itu…?” Celetuk Pak Poniran sambil menunjuk kearah kaki citra,” Kok sepertinya ada yang mengkilat-kilat di kaki kamu…?”
“Eh iya Dek…. ” Sahut Marwan, “Kamu kenapa…. ? Kamu nggak apa-apa Dek…? Itu lendir apaan…?”
“Eh apa ya mas…?” Tanya Citra ikut-ikutan melirik kearah kakinya.

“Itu pasti pejuh sih Muklis Kampreeeet… ” Batin Citra sambil pura-pura tak menghiraukannya. Karena memang benar, sperma Muklis tak henti-hentinya mengalir turun dan merayap dari paha dalam Citra hingga ke betisnya.

“Eeeh anu Mas… Itu…. Anu…. Aku kebelet…. ” Bohong Citra, “Iya…. Aku kebelet Ataşehir Escort | Kartal | Kadıköy | Maltepe Escort Bayan Mas…. Aku harus kekamar mandi dulu… ” Ucap Citra sambil berjalan menjauh. Berharap Marwan tak mampu mengenali sperma adik kandungnya yang semakin banyak mengalir keluar dari dalam vagina istrinya.
“Kebelet….?” Tanya Marwan heran, “Kok kental gitu Dek…? Trus warnanya juga keruh…?” Tambah Marwan sambil menjulurkan tangannya ke paha dalam Citra.
“Eh… Ehh…. Kamu mau apa Mas…? Jangan ah…. Pamali Mas….” Cegah Citra yang menyadari jika Marwan penasaran akan lendir yang terus-terusan mengalir turun dikakinya itu.
“Enggak…. Mas penasaran aja…. Khawatir kamu kenapa-napa dek….” Jawab Marwan yang tanpa jijik sedikitpun, meraba lendir itu dan mengamatinya secara seksama.
“Bany anyir Dek….. Miriiiipp bau……………..” Selidik Marwan sambil mengendusi cairan lendir yang ada di tangannya, “Kamu habis ngapain sih Dek….?”

“Mungkin Mbak Citra sedang keputihan kali Wan….” Celetuk Yongki, ajudan pak Poniran. “Dulu ketika istriku hamil muda, dia juga sering seperti itu….”

“Beeneerr…. Eeeeh… ” Jawab Citra lega, “Iya Mas…. Aku… Aku memang sedang keputihan Mas…. Trus aku kebelet… Jadi mungkin karena tercampur air pipis… Jadinya ya gitu…. Bentar Mas…. Aku… Udah nggak tahan lagi Mas… ” Jawab Citra tanpa menghiraukan pertanyaan suaminya, “Aku mau ke toilet dulu yaaah….”
“Ohh…. Oke deh…. ” Jawab Marwan yang masih tetap penasaran menatapi lendir Citra yang ada ditangannya, “Eeeh…. Oh iya Dek… ” Panggil Marwan yang tiba-tiba menampakkan wajah seriusnya. Seolah ia sadar akan sesuatu.
“I…Iya Mas….” Jawab Citra heran sambil menatap wajah suaminya.

“Waduh… Ada apa ini…?” Tanya Citra dalam hati. Ia hafal, jika Marwan sudah menampakkan wajah seperti itu, berarti ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakan.

“Nanti sehabis kamu dari toilet….Mas mau ngobrol… ” Ucap Marwan singkat

“Benar khan….?” Gerutu kata hati Citra.

“Ngobrol apa Mas…?” Tanya Citra.
“Nanti aja ngebahasnya… Sekarang kamu buruan gih ketoiletnya…. Itu lendir kamu udah makin banyak tuh keluarnya… Kamu beneran nggak kenapa-napa…?”
“Eeeemmm… Iya Mas…”
“Yaudah… Nanti Mas tunggu ya di Foodcourt lantai atas ya Dek….. Ajak Muklisnya sekalian….. Mas mau ngobrol dengan kalian berdua….”
“I… Iya Mas…” Jawab Citra panik sambil berjalan mundur meninggalkan Marwan dan ketiga orang temannya.

Baca juga : Cerita Sex Nikmatnya Diperkosa Oleh Tukang Kebun Yang Perkasa

“Apa ya yang akan dibicarakan Mas Marwan….?” Tanya Citra dalam hati,
“Kenapa pula dia ingin mengajak ngobrol dengan Muklis….?”
“Apa dia tahu lendir ini adalah sperma…?”
“Atau mungkin dia sudah tahu….?”
“Atau jangan-jangan…. Dia sudah tahu perselingkuhanku dengan adiknya…?”
Share:
Copyright © ceritasexindo | Powered by cerita sex indo Design by TOTOPREDIKSI | Blogger Theme by Ceritasexindo