Cerita dewasa, Cerita pemerkosaan, Cerita Mesum, Cerita ngentot, foto hot, foto sex, prediksi togel , prediksi togel jitu, totoprediksi

Minggu, 25 Maret 2018

Cerita Sex Pak RT kampungku Bermain Sex Denganku

Cerita sex - Hambali adalah ketua RT di daerah tempat saya tinggal. Dia sering datang ke rumah saya untuk mengumpulkan uang lokal dan biaya air bersih. Dia adalah seorang pria berusia 50-an dan memiliki dua istri. Memang orang yang benar mengatakan bahwa dia adalah orang tua, buktinya adalah ketika saya berada di rumah saya saat saya lewat di depannya, matanya sering menatap saya seolah matanya transparan di balik pakaian saya. Bagi saya tidak apa-apa, saya senang jika tubuh saya dikagumi oleh pria, terkadang saya memakai gaun rumah seksi saat saya lewat di depannya. Aku yakin dalam pikirannya pasti penuh dengan hal-hal kotor tentang diriku.



Suatu hari saya di rumah sendiri. Saya melakukan kebugaran untuk menjaga bentuk dan stamina tubuh saya di ruang belakang rumah saya dengan beberapa peralatan fitness yang tersedia. Saya memakai baju bagus dan menyerap keringat dalam bentuk lengan tanpa lengan tanpa lengan hitam dengan belahan dada rendah sehingga payudara montok saya sedikit menusuk terutama saat saya melihat ke bawah terutama karena saya tidak memakai bra, juga celana pendek ketat yang tercetak padam saya. pantat. Ketika saya melatih paha saya, tiba-tiba bel berbunyi, saya segera mengambil handuk kecil dan mengelap keringat sambil berjalan ke pintu. Saya melihat dari jendela, Mr Hambali yang datang, dia ingin mengumpulkan biaya pipa ledeng, yang ayah saya percayakan kepada saya pagi ini.
Aku membuka pagar dan mengundangnya masuk

“Tolong Pak duduk ya, sambil menungguku mengambil uang” Senyumku dengan ramah mengajaknya duduk di ruang tamu
“Seberapa tenangnya, di mana kau?”
“Papa hari ini pulang, tapi uangnya sudah dititip ke saya kok, mama juga lagi arisan teman sama”
Seperti biasanya, matanya selalu menatap tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak terlihat. Saya juga menyadari bahwa dadaku mengintip saat dia menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.
“Minum Pak” tawark saya lalu saya duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kanan saya sehingga paha dan putih saya lebih terlihat. Nuansa teduh mulai terasa di ruang tamu yang nyaman
Dia bertanya kepada saya seputar masalah orang muda, seperti ceramah, hobi, keluarga, dan lain-lain, namun matanya tetap telanjang.

“Bayangkan citra olah raga dengan baik, karena badan wajah berkeringat merah lagi” katanya
“Iya ya pak, wajar kalau cewek harus menjaga jenazahnya, sekarang pas banget banget banget ya, mau dipijat itu, ayah bisa bantu pijitin ga?” Aku menggoda saat dia mendorong pahaku.
Tanpa diminta lagi dia langsung bangkit dan bergerak disampingku, sambil berdiri aku melihat dia melihat putingku menonjol dari balik bajuku, juga kulihat kontolnya ngaceng yang berat membuatku tidak sabar untuk pegang benda itu.

“Biar Dik, kesinikan kaki izinkan saya memijat”
Saya kemudian mengubah posisi duduk saya ke samping dan menempelkan kaki saya ke arahnya. Dia mulai memijat pahaku ke betisku. Uuuhh … pijatannya benar-benar bagus, telapak tangannya yang kasar membelai paha putih mulusku membangunkan birahku. Aku menghela napas saat menggigit bibir bawahku.
“Pijat ayah yang bagus ya Dik?” Dia bertanya
“Ya pak, tetap dong … enak … .mmhh!” Aku terus menghela nafas Pak Hambali, desahku kadang kuhadapi dengan meregangkan tubuh.

Kunjungi juga : Togel online terpercaya

Dia berani mengelus paha bagian dalam tubuhku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya
“Enngghh … pak!” Aku mendesah lebih intens saat merasakan jari-jarinya mengelakkan bagian itu
Tubuhku semakin menggelinjang jadi nafsu Pak Hambali malah bertambah dan tak terbendung. Celana olahraga saya ditarik keluar dengan celana dalam saya. “Aryw …!” Aku berpura-pura kaget saat menutupi pangkal paha dengan telapak tanganku. Melihat reaksi adikku yang tak tahu malu, dia semakin bersemangat, dia menarik celana yang telah tertarik ke lutut dan kemudian dilemparkan ke belakang, kedua tanganku menutupi alat kelamin juga terbuka sehingga rambut berambut tebalku terlihat padanya, klistor merah dan cokelatku. Sudah siap untuk masuk Hambali tertegun sejenak memandangi saya yang terbaring telanjang.

“Kamu yang sempurna Dik Citra, dari masa lalu ayah sering membayangkan ngent * kalengmu, akhirnya hari ini juga mencapai” rayunya

Dia mulai melepas bajunya agar bisa melihat perutnya yang gemuk dan dadih berbulu. Kemudian ia membuka ikat pinggang dan celananya sehingga benda di belakangnya sekarang bisa terangkat kencang dan tegak. Aku menatap takjub pada organ, begitu besar dan mengakar sehingga aku tidak sabar untuk ambil dan menyedotnya. Pak Hambali membuka pahaku dan mengubur kepalanya di sana sehingga selangkanganku menghadap wajahnya.

“Hhmm … wangi, pastinya adik rajin merawatnya dengan baik” gumamnya sambil menghirup selangkanganku yang dipelihara dengan baik dengan sabun pembersih wanita.

Sesaat kemudian aku merasakan hal yang lembut dan basah menggelitik vaginaku, oohh … lidahnya menjilat klausulku, kadang menusuk pangkal pahaku. Lidah tebal dan kumisnya sangat menarik bagi saya, saya sangat terhibur sehingga saya menghela napas tak tertahankan saat saya meremas rambutnya. Tangannya meluncur di bawah kemejaku dan mulai meremas payudaraku, jari-jarinya yang besar bermain liar di sana, meremas putingku dan memelintirnya sampai mereka tumbuh lebih keras.
“Pak … oohh.. aku juga mau … pak!” Aku mendesah tak tahan ingin menghisap penis.

“Kalau begitu bapak turun ya ya dik” katanya sambil mengatur posisi kita sedemikian rupa agar bergaya
Aku menaiki wajahnya dan membungkukkan badanku, meraih benda kesukaanku, dalam cengkeramanku, aku dengan lembut mengayunkan sambil menjilatnya. Aku menggerakkan lidahku di sepanjang tongkat, kesaksiannya sesaat, lalu menjilati lagi sampai akhir dimana aku mulai membuka mulutku untuk menelannya. Oohh … batangnya begitu gemuk dan berdiameter lebar seperti badan pemiliknya, jadi saya juga harus membuka mulut lebar-lebar agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan menggosok testis dengan tanganku. Hambali mendesah dengan senang menikmati permainan saya, sementara saya juga merasa geli di sana, saya merasakan ada gerakan berputar-putar di dalam vagina saya dengan jari-jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama membelai klausa dan bibir vagina saya, tidak hanya itu, miliknya. Lidah juga menjilat anus dan vagina saya. Betapa sensasinya yang hebat sampai pinggul saya goyang untuk menikmatinya, juga lebih mengulum penisnya. Selama 10 menit kami menikmatinya sampai ada sedikit kesal dengan suara HP Pak Hambali. Aku melepaskan penisnya dari mulutku dan menatapnya.

Hambali menyuruh saya untuk membawa ponselnya di meja ruang tamu, lalu dia berkata
“Ayo pergi, terus karaokenya dong, izinkan saya bilang dulu di telepon”
Aku tanpa ragu menelan kontolnya lagi. Dia berbicara tentang HP sementara penisnya diambil oleh saya, tidak tahu siapa yang harus diajak bicara, saya hanya berpikir, yang harus saya coba untuk tidak membuat suara aneh. Tangan lain yang tidak memegang HP terus bekerja di selangkangan saya, terkadang menyelipkannya ke dalam vagina dan anus saya, terkadang meremas pantat pantat saya. Tiba-tiba dia menggeram saat menepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena itu pertanggungjawabanku malah lebih mengasyikkan dan menyedot penisnya sampai dia berusaha menahan duka cita karena masih harus terus melayani. percakapan. Akhirnya muncratlah cairan putih di mulut saya yang saya minum langsung seperti haus, cairan yang menempel pada penisnya juga saya menjilat sampai tidak ada yang tersisa.

“Tidak apa-apa … tidak apa-apa … hanya tenggorokan saya ada sedikit masalah” katanya di HP
Tak lama kemudian ia menutup ponselnya, lalu bangkit dan meletakkanku di pangkuannya, tangan kirinya didukung di tubuhku.
“Wah … dikitra gambar ini juga keras kepala ya, apakah kamu sudah diperintahkan untuk berhenti dulu, eee … malah dibikin lagi, untung ga curiga tuh orang” katanya sambil mencubit putingku
“Hehehe … sori deh pak, sudah jadi tanggung jawab saya untuk makan aja, tapi ayah seneng kan” kataku dengan senyum nakal.

“Hmm … kalau begitu awas ya sekarang ayah balas membuatmu keluar ya” nyengir, lalu dengan cepat tangannya tergelincir di antara pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuk mendorong dan menusuk vagina saya, saya meringis saat merasakan jari-jari bergerak lebih cepat untuk bermain dengan nafsu saya.
Hambali menarik bajuku tanpa lengan dari bahunya dan menyelipkannya melalui lengan kananku, jadi sekarang dadaku yang putih montok muncul.

Dengan gairah langsung ia menghancurkan benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit sedikit saat menggigit putingku dan mengisapnya keras, bola mungil itu sepertinya mengencang. Dia membuka mulutnya terbuka lebar agar sesuai dengan semua payudaraku ke dalam mulutnya, di dadanya payudaraku tersedot, merajuk, dan menjilat, rasanya dia ingin memakanku. Sementara pangkal pahaku basah kuyup dengan jari-jarinya, jari-jarinya menusuk lebih cepat dan lebih dalam. Sampai suatu saat nafsu saya terasa sudah di atas, mengalir cairan cintaku dengan cepat. Saya menjepit paha saya di bawah geli saya sehingga tangannya terjepit di antara paha halus saya.
Setelah ia menarik tangannya dari pangkal paha, nampak jari-jarinya sudah tertutup oleh cairan bening yang saya lepaskan.

Dia menjilat cairan saya yang dijarinya itu, saya juga ikutan menjilat jarinya untuk merasakan cairan cinta saya sendiri. Lalu dia memasukkan tangannya lagi ke pangkal paha, kali ini dia membelai daerah itu seakan menyekanya. Telapak tangannya penuh sisa cairan yang dibalurinya di dadaku

“Sayangnya jika dibuang, itu boros” katanya
Lagi-lagi lidahnya menjilat dadaku yang basah, sementara aku menjilat cairan di tangannya yang diserahkan kepadaku. Tanganku yang satunya meraba-raba dan meraih penisnya, yang dirasakan olehku batangnya sekarang mengeras lagi, siap untuk memulai aksi selanjutnya.
“Enggh … masuk aja aja, sudah mau nih”

Dia membalikkan tubuhku, tepat di depannya, tangan kanannya mencengkeram penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Saya membuka bibir vagina saya untuk menyambut masuknya objek. Setelah saya merasa bugar saya mulai menurunkan tubuh saya, perlahan tapi pasti penis mulai tenggelam di pangkal paha saya. Sukacita liar saya membuat Pak Hambali menghela napas lega, untungnya dia tidak menderita penyakit jantung, jika memang kambuh. Baju saya yang masih di bahu kiri menurunkannya sehingga baju itu menggantung di perut saya dan payudara kiri saya terpapar. Tampaknya perbedaan antara kiri masih bersih dengan sisi kanan daritadi menjadi bulan-bulanan sehingga basah dan memerah bekas cupang.

Tangannya memutar-mutar payudaraku, saat kumis kumisnya yang kasar terkadang menggosok putingku yang menyebabkan sensasi kesemutan yang menyenangkan. Lidahnya terangkat ke leherku dan memegangnya sementara tangannya terus memainkan payudaraku. Berkat saya sangat tinggi, nafas saya menjadi semakin tidak teratur, dia begitu cerdik dalam bercinta, saya rasa ini baru pertama kali berselingkuh seperti ini. Saya merasa bahwa saya tidak bisa bertahan lebih lama lagi, frekuensi saya bergetar, lalu saya mencium bibirnya.

Tubuh kita terus bergerak sambil memainkan lidah kita dengan liar sampai air liur kita mengalir deras di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui bahwa saya akan keluar, dia menancapkan pundak saya sehingga penisnya menusuk lebih dalam dan vagina saya menjadi sesak. Tubuhku gemetar hebat dan jeritanku yang tak tertahankan berasal dari mulutku, perasaan itu berlangsung beberapa saat sampai akhirnya aku terkungkung dalam pelukannya.

Dia menjatuhkanku dari pangkuannya, penisnya berkilau karena basahnya cinta. Dia meletakkan tubuh lemasku di sofa, lalu menyerahkan gelas yang berisi teh itu. Setelah beberapa tegukan, saya merasa sedikit lebih segar, setidaknya di tenggorokan saya karena sudah kering saat saya menghela napas dan menjerit. Baju saya masih gantung di perut yang dilepaskannya, jadi sekarang saya telanjang total. Sebelum energi saya benar-benar pulih, Hambali telah menghancurkan tubuh saya, saya hanya bisa menyerahkannya di bawah tubuh gemuknya.

 Dengan lembut dia mencium dahi saya, dari sana ciuman sampai ke pipi, berhenti di bibir, mulut kita kembali satu sama lain. Selama ciuman itu, Pak Hambali memasukkan penisnya ke vagina saya, lalu mendorongnya perlahan-lahan, dan aahh … mata tertutup saya menikmati ciuman tiba-tiba saat dia menginjak pinggulnya sehingga penisnya menusuk lebih dalam.

Kesenangan ini berlanjut, saya sangat menikmati gesekan gesekan dinding vagina saya. Payudaraku menggosok dadanya yang berbulu, pahaku melongo ke pinggangnya. Aku mengerang tak terkendali saat menggigit jari sendiri.

Sementara pinggulnya berdegup kencang di atas saya, mulutnya terus-menerus menumbuk atau menjilat bibir saya, wajah saya jadi basah tidak hanya dengan keringat, tapi juga dengan air liur. Telinga dan leherku tidak luput dari lilitannya, lalu dia mengangkat lengan kananku dan dia menancapkan kepalanya ke sana. Aahh … ternyata dia menyikat bibir dan lidahnya dengan ketiakku yang mulus, kumis kasar menggelitikku sehingga desahanku bercampur tawa.

“Uuuhh..Pak … aakkhh …!” Saya kembali mencapai orgasme, vagina saya semakin kebanjiran, tapi tidak ada tanda dia keluar segera, dia terlihat sangat menikmati ekspresi wajah saya yaitu orgasme. Suara menjilat cairan sudah jernih setiap kali dia menusuk penisnya, cairanku mencair di mana-mana sampai merendam sofa, sofanya yang lebih ringan dari kulit, mudah membersihkan dan membuang bekas luka itu.

Tanpa melepaskan penisnya, Hambali bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan mengangkat betisku ke pundaknya. Tanpa memberi saya istirahat dia terus mengocok pangkal pahaku, saya tidak cukup kuat untuk mengerang karena leher saya terasa sakit, saya hanya bisa bau seperti ikan yang keluar dari air.

“Ayah sudah mau … dik … Citra … !!” Dia mendesah untuk mempercepat goyangnya.
“Di luar … pak … ahh … uuhh … lagi subur” kataku sambil berkata meski suaraku putus.

Segera dia menarik penisnya dan menurunkan kakiku. Dia memanjat ke wajahku, lalu dia meletakkan penisnya masih tegak dan membasahi bibirku. Saya memulai pekerjaan saya, kukulum dan kukocok tanpa henti sampai dia mengerang keras dan menyambar rambut saya. Semprotan itu menyemprotkan wajahku, aku membuka mulut untuk menerima semprotan itu. Setelah semprotan mereda saya masih mengocok dan mengisap penisnya seakan tidak meninggalkan setetes pun. Batang kujilati aku bersihkan, benda itu mulai menyusut perlahan di mulutku. Kami memeluk tubuh lemas sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat saya berbaring direndam dengan keringat dan cairan cinta saya yang menetes. Masih telanjang, aku terhuyung-huyung ke dapur untuk mengambil kain lap dan segelas air. Ketika saya kembali ke ruang tamu, Pak Hambali sedang mengancingkan kemejanya lagi, lalu menelan sisa air di gelasnya.

“Wah Dik Citra sangat hebat, istri ayah sekarang tidak sekuat saudara kandungnya lagi saat mereka sering melayani ayah sekaligus sekaligus” dia memuji bahwa saya hanya merespon dengan senyuman manis.

Setelah berpakaian lagi, saya mengantarnya ke pintu depan. Sebelum keluar dari pagar ia melihat kanan kiri terlebih dahulu, setelah yakin tidak ada orang yang menepuk pantatku dan mengucapkan selamat tinggal.

“Lain kali ada kesempatan kita bermain lagi dengan baik Dik”
“Bagian bawah bandot, tidak cukup untuk memiliki dua istri, masih meniup anak laki-laki,” kataku pada diri sendiri

Akhirnya saya mandi tubuh saya dari sperma, keringat, dan air liur. Semprotan air menyegarkan tubuh saya setelah seharian berolahraga dan berolahraga. Beberapa menit setelah mandi, ibuku pulang. Katanya bau ruang tamu itu bagus sehingga kepayahannya agak berkurang, saya tersenyum hanya karena ruangan itu terutama sekitar “medan aksi” kami sudah saya semprotkan freshener udara untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Copyright © ceritasexindo | Powered by cerita sex indo Design by TOTOPREDIKSI | Blogger Theme by Ceritasexindo